biar
ku matikan lampunya sayang
malam ini saja-sementara
saat dingin menggerayang
angin berbisik halus lembut di telinga
membelai halus rambut hitam legam tak beraturan
menyapa setiap rongga muka ku yang bopeng
oleh kisah di masa yang silam
Tampilkan postingan dengan label kaki langit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kaki langit. Tampilkan semua postingan
Minggu, 02 Oktober 2011
Rabu, 11 Mei 2011
Mantra mantra-an
Hari ini Tuhan bicara padaku
di balik desir angin malam kelam
di antara celah jendela kamar
di ruang etalase kelam kota jalang
di antara rentetan reklame lambang kejayaan sebuah kota besar
ketika semua tercipta hanya untuk dihancurkan
ketika semua adalah ambiguitas pada pepesan kosong
ketika semua adalah lagu rindu pada absurditas
ketika semua tarian hanya hentakan tak beraturan
ketika tolerasi adalah dekadensi pada moralitas
maka, setiap jejak menjadi labirin kusam
karena semua akhirnya terjebak di kaki waktu
hingga akhirnya nafas terlepas
di sela-sela gundah para pujangga malang
yang tak tahu jalan pulang.....
di balik desir angin malam kelam
di antara celah jendela kamar
di ruang etalase kelam kota jalang
di antara rentetan reklame lambang kejayaan sebuah kota besar
ketika semua tercipta hanya untuk dihancurkan
ketika semua adalah ambiguitas pada pepesan kosong
ketika semua adalah lagu rindu pada absurditas
ketika semua tarian hanya hentakan tak beraturan
ketika tolerasi adalah dekadensi pada moralitas
maka, setiap jejak menjadi labirin kusam
karena semua akhirnya terjebak di kaki waktu
hingga akhirnya nafas terlepas
di sela-sela gundah para pujangga malang
yang tak tahu jalan pulang.....
Selasa, 10 Mei 2011
Mantra Nafas
menerjemahkan nafas
diruang kusam tempat merebah
pintu terbuka jendela menganga
angin merangsek memeluk erat
cahaya sembunyi di balik cadar cadar suci
sebatang rokok dan kopi adalah surga
irama berputar di hp tua
jemari meringis di kertas
mengoreskan gundah
melafalkan tanya
lelaki tua duduk saja dipojokan ruang
diantara tumpukan kertas dan tinta
terjebak di lautan tanpa tepian
kehilangan......
menerjemahkan setiap nafas
adalah penelusuran labirin waktu
pada kehilangan... pada rindu.... pada nafas itu sendiri...
pada akhiran, PASTI!
sementara waktu tak mau menunggu
nafas pun mengaduh pilu
ia tahu semua akhirnya satu
terbujur kaku di lubang bisu
digilas kaki waktu
kesombongan merapuh
pada akhirnya kita adalah makhluk dungu
ditikam waktu.... kaku... bisu... !
diruang kusam tempat merebah
pintu terbuka jendela menganga
angin merangsek memeluk erat
cahaya sembunyi di balik cadar cadar suci
sebatang rokok dan kopi adalah surga
irama berputar di hp tua
jemari meringis di kertas
mengoreskan gundah
melafalkan tanya
lelaki tua duduk saja dipojokan ruang
diantara tumpukan kertas dan tinta
terjebak di lautan tanpa tepian
kehilangan......
menerjemahkan setiap nafas
adalah penelusuran labirin waktu
pada kehilangan... pada rindu.... pada nafas itu sendiri...
pada akhiran, PASTI!
sementara waktu tak mau menunggu
nafas pun mengaduh pilu
ia tahu semua akhirnya satu
terbujur kaku di lubang bisu
digilas kaki waktu
kesombongan merapuh
pada akhirnya kita adalah makhluk dungu
ditikam waktu.... kaku... bisu... !
Langganan:
Postingan (Atom)